Peran Seorang Guru (Lanjutan)

Peranan dan Tugas Guru dalam Pengembangan Sekolah sebagai Pusat Kebudayaan

Kemajuan IPTEK dengan masyarakat informasi yang sudah barang tentu akan mengubah peranan lembaga pendidikan, termasuk di dalam profesi guru. Apabila informasi serta penyampaiannya dapat diambil alih oleh mesin, apakah sekolah dan lembaga pendidikan lainnnya pada abad ke-21 ini masih mempunyai fungsi, sehingga eksistensinya dapat dipertahankan? Apakah profesi guru masih tetap ada? Selama kebudayaan ini berkembang dan terjadi tranmisi nilai-nilai budaya serta inovasi nilai-nilai budaya baru, maka pendidikan dan guru akan tetapi eksis beserta lembaga terjadinya proses pendidikan itu.

Untuk manusia dewasa ini mulai menyadari bahwa kemajuna yang diinginkan dari  setiap peradabannya bukan hanya sekedar nilai-nilai material, melainkan jiga nilai-nilai immaterial, seperti kebebasan, demokrasi, keakraban, kehangatan, kemanusiaan, dan harapan akan kehidupan di bumi ini yang penuh kedamaian dan ketentraman. Materialisme, hedonisme, individualisme, yang merupakan nilai-nilai yang beradegan dnegan kemajuan iptek akan berpacu sejalan dengan kehidupan kembali nilai-nilai moral, agama, spiritual, dan kemanusiaan.

Guru harus memiliki kemampuan dan kompetensi. Kompetensi dapat berarti setiap kemampuan manusia untuk menjalankan hidupnya. Akan tetapi, dalam hubungannya damam pembahasan ini yang dimaksud dengan kompetensi adalah “Kemampuan profesiolan yang berhubungan dengan suatu jabatan tertentu, atau dalam hal ini profesi guru”.(depdikbud,1994:36)

Kadang orang menyamakan kompetensi dengan preformance. Sebenarnya performance itu hanya merupakan salah satu unsur atau komponen dari kompetensi. Dalam hubungan dalam pembahasan ini, maka dapat dikemukakan kesurang-kurangnya enam komponen, yaitu:

  1. Komponen performance yangberisi unsur-unsur tingkah laku nyata yang berhubungan dengan kompetensi mengajar
  2. Komponen materi pengajaran yang berisi bahan yang menunjang pencapaian tujuan-tujuan pendidikan
  3. Komponen profesional yang berisikan unsur-unsur yang berhubungan dengankependidikan, seperti yang berhubungan dengan filsafat dan psikologi
  4. Komponen proses yang berisikan unsur-unsur yang memungkinkan yang bersangkutan dengan proses belajar mengajar dan menyebabkan yang bersangkutan dapat melaksanakan kompetensi belajar
  5. Komponen penyesuaian diri yang berisi unsur-unsur yang memungkinkan yang bersangkuran dapat menyesuaikan ciri-ciri proibadinya dengan performance dari kompetensinya.
  6. Komponen sikap yang berisi unsur-unsur kompetensi yang memngkinkan yang bersangkutan memperhatikan dan menghayati sikap, nilai, perasaan yang mendukung performance dari kompetensinya. (Derpdikbud,1984:37)

Bersasarkan uraian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam melaksanakan peran dan tugasnya dalam pengembangan sekolah sebagai pusat kebudayaan, paling tidak guru harus memiliki anam kompetensi, yaitu komponen performance, komponen penguasaan materi pembelajaran, komponen profesional, komponen proses yaitu kemampuan melaksanakan proses belajar mengajar, komponen penyesuaian diri, dan komponen sikap.

Tujuan pendidikan tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, tetapi lebih jauh dari itu harus mampu meningkatkan kecerdasan spiritual sebagai filter terhadap berbagai dampak negatif dari era globalisasi dan informasi. “Sekolah tak hanya cukup dengan mengembangkan kecerdasan spiritual yang merupakan landasan dan roh bagi kecerdasan akal, kecerdasan emosional, dan kecedasan kepribadian: (Pikiran Rakyat,2003).

Sehubungan dengan kecenderungan baru dalam abad ke 21 ini, kita membutuhkan model pendidikan yang tidak cukup hanya demgan mengembangkan kecerdasan akal atau IQ, tetapi juga mnegembangkan kecerdasan emosi atau EQ, kecerdasan spiritual atau SQ, dan kecerdasan Agama atau RQ. Banyak kegagalan dan kesesatan dalam kehidupan modern ini jika hanya mengandalkan IQ. Banyak hal atau kejadian yang secara  logika benar, tetapi perasaan menyatakan bahwa hal itu tidak benar, karena itulah seringkali diperlukan keahlian kecerdasan akal didampingi kecerdasan emosi.

Kecerdasan emosi ini berakar dalam hati nurani yang amat mendalam dan kesadaran diri. Menurut Daniel Goleman (1999:63) bahwa kecerdasan emosi merupakan “The inner ruder”, kekuatan dari dalam, sifatnya alami, dan dapat berkembang dengan kuat melalui berbagai akumulasi pengalaman yang panjang dan panjang (never ending)

Dengan mengembangkan kecerdasan emosi (EQ) diharapkan orang mampu mengendalikan tata piker atau akalnya lebih baik, jujur, dan mengembangkan kerjasama dengan berbagai pihak dengan saling menghargai dan saling menguntungkan. Dengan SQ (Spiritual Quotient) diharapkan orang mampu memahami makna dan nilai dari sesuatu yang tersembunyi dibalik dari apa yang nampak nyata secara lahiriah. RQ (Religious Quotient) dimaksudkan bahwa semua kecerdasan, baik akal, emosi, maupun spiritual bersumber dari spiritual tauhid. Dengan RQ diharapkan orang mampu memahami hikmah sesuatu, semua hal yang diyakini berawal dari Tuhan.

Dengan demikian, guru sebagai pengajar dan pendidik harus mampu meningkatkan kecerdasan spiritual para siswa dan memotivasi dan membimbing para siswa  dengan memotivasi dan membimbing para siswa untuk mempelajari dan melaksanakan ajaran agama sesuai dengna agama yang dianut oleh para siswa. Karena jika kecerdasan spiritual siswa cukup baik, maka kecerdasan akal, kecerdasan emosional, dan kecerdasan kepribadian siswa akan dilandasi kecerdasan spiritual yang sudah tentu para siswa akan mampu mengatasi berbagai damapak negatif dan masuknya budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya Bangsa Indonesia.

 

Oleh : Ilah Rohilah, S.Pd., M.Si.

Perihal marlina2
Saya sedang bekerja di RS Ibu dan Anak Hermina Depok

Mangga Bilih Bade Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: