Proposal Perbandingan Model Pembelajaran Kooperatif Kolaboratif dengan Kontekstual

  1. A. Judul

Perbandingan perstasi belajar matematika  siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif – kolaboratif dengan model pembelajaran kontekstual.

 

  1. B. Latar Belakang Masalah

“Pendidikan” merupakan satu kata yang sudah tidak asing lagi, bukan hanya bagi kalangan orang-orang yang secara langsung berkecimpung di dunia pendidikan saja akan tetapi bagi masyarakat awam pula. Pendidikan termasuk salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, setiap manusia memerlukan pendidikan karena pendidikan pulalah yang menjadi salah satu faktor yang dapat membedakan manusia dari makhluk lainnya. Berkaitan dengan hal ini, U. Tirtarahardja, dan La Sulo, (2005:1) menyatakan bahwa “Sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan bermaksud membantu peserta didik untuk menumbuh kembangkan potensi-potensi kemanusiaannya. Potensi kemanusiaan merupakan benih kemungkinan untuk menjadi manusia.” Dan menurut Sujana (dalam Ujang, 2006:82) ‘Pendidikan merupakan suatu upaya manusia untuk memanusiakan manusia’. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pendidikan merupakan hal yang sangat essensial bagi kehidupan manusia.

Pendidikan terdiri dari dua jenis yaitu pendidikan formal dan pendidikan non formal. Dalam peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005  tentang standar Nasional Pendidikan, tepatnya pada pasal 1 dinyatakan bahwa “…Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan nonformal

adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang…”.

Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan formal mempunyai tanggung jawab untuk mendidik siswa. Untuk itu sekolah menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar sebagai realisasi tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Berbagai mata pelajaran pun diajarkan di sekolah, salah satunya adalah mata pelajaran matematika. “Matematika bahkan merupakan mata pelajaran yang telah diberikan sejak Sekolah Dasar (SD)  dengan tujuan untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama.” (Hernawati, 2007:13).

Kemudian berkaitan dengan pembelajaran matematika di sekolah, Ruseffendi (dalam Sudrajat, 2004:2) menyatakan bahwa ‘guru hendaknya dapat menciptakan kondisi pembelajaran yang dapat membentuk pribadi siswa sehingga mempunyai keterampilan yang baik dalam bekerja sama, mempunyai keberanian dan keterandalan dalam berkompetisi disamping mempunyai kemampuan matematika.’

Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa siswa belajar secara pasif, hanya menerima informasi dari guru.

Oleh karena itu, guru harus pandai-pandai memilih dan menerapakan model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa secara positif dan edukatif sehingga siswa dapat berperan aktif dalam belajar.

Salah satu upaya agar siswa aktif belajar dan dapat berprestasi yaitu dengan cara menerapkan moel pembelajaran bermakna yang berpusat pada siswa (student centered) diantaranya model pembelajaran kontukstual dan model pembelajaran kooperatif-kolaboratif.

Ada beberapa paham,teori atau pendapat yang menjadi acuan pembelajaran matematika yang kontekstual. Pada dasarnya pembelajaran matematika yang kontekstual mengacu pada konstruktivisme. Slavi (1997 : 269) menyatakan bahwa belajaran menerut konstruktivisme adalah siswa sendiri yang harus aktif menemukan dan mentransfer atau membangun pengetahuan yang akan menjadi miliknya. Dalam prose situ siswa mengecek dan menyesuaikan penetahuan baru yang dipelajari dengan pengetahuan atau kerangka berpikir yang telah mereka miliki. Konstruktivisme beranggapan bahwa mengajar bukan merupakn kegiatan memindahkan atau menstransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Peran guru dalam mengajar lebih sebagai mediator dan  fasilitator. Soprano (2001 :10 – 11) menyatakan pada intinya peranan fasilitator oleh guru itu dapat dijabarkan dalam beberapa tugas,yaitu menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa mengambil tanggu jawab dalam kegiatan pembelajaran; menyadiakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsa keingintahuan siswa dan membantu siswa dalam mengekspresikan gagasan-gagasannya dan mengkomunikasikan ide ilmiahnya; menyediakan sarana yang merangsang berpikir siswa secara produktif; menyediakan kesempatan dan pengalaman yang paling mendukung belajar siswa,termasuk menyamangati siswa; memonitor, mengevaluasi dan menunjukan pemikiran siswa relevan (dapat jalan) atau tidak dan dapat digunakan atau tidak untuk menghadapi persoalan baru yang berkaitan dengan yang dipelajari.

Selain kontruktivisme, pembelajaran matematika yang kontekstual juga mengacu pada teori belajar bermakna yang tergolong pada aliran psokologi belajar kognitif. Ausubel (dalam dahar, 1989 :110-112) menyatakan bahwa belajar dapat dikatagorikan dalam dua dimensi yaitu berhubungan dengan cara pengetahuan(informasi, materi pelajaran) disajikan kepada siswa dan cara mengaitkan pengetahuan itu pada stuktur kognitif siswa yang telah ada atau dimiliki siswa. Menurut ausubel bermakna adalah suatu proses mengaitkan pengetahuan baru pada pengetahuan relevan yang telah terdapat dalam stuktur kognitif siswa.

Model pembelajaran yang berpusat pada siswa lainnya yaitu model pembelajaran kooperatif-kolaboratif. Suderajat (2004) menyatakan bahwa pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang berbasis komunitas. Karena siswa dapat belajar lebih baik dan lebih banyak apabila mereka berinteraksi dengan  sesame temannya. Kompetisi antar siswa akan memperlambat belajara mereka, sebaliknya kerjasama kelompok akan mempercepat belajar mereka.

Pola belajar kelompok dengan cara kerjasama (cooperative) antar siswa, selain dapat mendorong tumbuhnya gagasan yang lebih bermutu gunameningkatkan kreatifitas siswa, juga merupakan nilai sosial bangsa yang perlu dipertahankan.

Pembelajaran kooperatif-kolaboratif sangat baik untuk membentuk sikap pertanggungjawaban sosial, dan mengurangi sifat ke”aku”an, serta memotivasi belajar dan merningkatkan pengembangan kreativitas individu.

Jika banyak peneliti yang meneliti perbedaan salah satu model pembelajaran di atas dengan model pembelajaran kontekstual, maka penulis berkeinginan untuk meneliti apakah ada perbedaan prestasi siswa yang menggunakan model pembelajaran kontkstual dengan model pembelajaran kooperatif-kolaboratif.

Melalui penelitian ini, diharapkan para pengajar (guru) lebih tahu dan paham metode mana kiranya yang lebih baik digunakan untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa dan meningkatkan pertasi belajar siswa, tetapi tidak menutup kemungkinnan kedua metode belajar ini digunakan secara bersamaan sehingga hasilnyalebih efektif.

Berdasarkan penjelasan di atas maka penulis mengadakan penelitian tentang “perbandingan prestasi belajar matematika siwa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif-kolaboratif dengan yang menggunakan model kontekstual”.

 

 

 

 

 

 

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

“Apakah terdapat perbedaan prestasi belajar siswa antara siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif-kolaboratif dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran kontekstual?”

 

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa antara siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif-kolaboratif dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran kontekstual.

 

E. Hipotesis

Dalam penelitian ini penulis mengajukan hipotesis “terdapat perbedaan prestasi belajar siswa antara siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif-kolaboratif dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran kontekstual”

 

Untuk lebih lengkap dengan ban 2,3 nya silahkan DOWNLOAD dibawah ini!!

Proposal Perbandingan Kooperatif Kolaboratif dengan Kontekstual

Perihal marlina2
Saya sedang bekerja di RS Ibu dan Anak Hermina Depok

Mangga Bilih Bade Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: