Pengetahuan Ibu tantang Konsep Bermain Anak

TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG KONSEP BERMAIN PADA ANAK USIA 1-3 TAHUN (TODDLER)
Dunia anak adalah dunia bermain, dalam kehidupan anak-anak, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan aktivitas bermain. Para peneliti menemukan bahwa anak-anak yang tidak bermain dan jarang disentuh, otaknya 20-30% lebih kecil dari otak normal anak seusia mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang konsep bermain pada anak usia 1-3 tahun (toddler).
Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang mempunyai anak usia 1-3 tahun di Desa Segaran Kecamatan Wates Kediri. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Jumlah sampel sebesar 32 responden. Data yang diperoleh ditabulasi dengan memberi skor kemudian diprosentasekan, setelah itu dikelompokkan.
Hasl penelitian ini menunjukkan tingkat pengetahuan ibu tentang konsep bermain pada anak usia 1-3 tahun (toddler) dengan kriteria baik sejumlah 4 responden (12,5 %), kriteria cukup sejumlah 11 responden (34,4%) dan kriteria kurang sejumlah 17 responden (53,1%). Dengan kriteria yang masih kurang ini diharapkan perlu ditingkatkan lagi mengenai pemberian informasi kesehatan tentang pentingnya bermain pada anak, serta meningkatkan motivasi ibu agar selalu memantau tumbuh kembang anak.

Dunia anak adalah dunia bermain, dalam kehidupan anak-anak, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan aktivitas bermain. Bermain dapat digunakan anak-anak untuk menjelajahi dunianya, mengembangkan kompetensi dalam usaha mengatasi dunianya dan mengembangkan kreativitas anak (Devi A.M, 2008). Seorang ibu diharapkan dapat menstimulasi anak dengan bermain dan berinteraksi dengan lingkungannya, berolahraga dan beraktivitas kreatif lainnya agar stimulasi untuk perkembangan otak anak semakin lengkap (Kuwat M, 2008).

Sebagai suatu aktivitas yang memberikan stimulasi dalam kemampuan ketrampilan, kognitif dan afektif maka sepatutnya diperlukan suatu bimbingan, mengingat bermain bagi anak merupakan suatu kebutuhan bagi dirinya sebagaimana kebutuhan lainnya seperti kebutuhan makan, kebutuhan rasa aman, kebutuhan kasih sayang dan lain-lain. Sebagai kebutuhan sebaiknya juga perlu diperhatikan secara cermat bukan hanya dijadikan mengisi kesibukan atau mengisi waktu luang (Abdul A.A.H, 2005).
Dengan bermain, anak melatih kemampuan dasar yang diperlukan dalam kehidupan. Permainan yang terarah di lingkungan yang tepat akan membantu anak memperoleh sarana yang ia butuhkan untuk mempertajam pemikiran dan meningkatkan kepekaannya (Stevanne A, 2004).
Banyak penelitian menegaskan aspek penting perkembangan mental, sosial dan saraf sejak dini. Para peneliti menemukan bahwa anak-anak yang tidak bermain dan jarang disentuh, otaknya 20-30 % lebih kecil dari otak normal anak seusia mereka. Para peneliti menemukan mainan menstimulasi sinapsis pada setiap neuron atau sel otak 25% lebih banyak (Stevanne A, 2004).
Selain itu, dengan aktivitas bermain anak juga akan memperoleh stimulasi mental yang merupakan cikal bakal dari proses belajar pada anak untuk pengembangan, kecerdasan, ketrampilan, kemandirian, kreativitas, agama, kepribadian, moral, etika dan sebagainya (Nursalam, 2005).
Ketika anak sudah memasuki masa bermain atau istilah lain disebut sebagai masa toddler, maka anak selalu membutuhkan kesenangan pada dirinya disitulah anak membutuhkan suatu permainan, maka tidak terlalu heran masa anak-anak sangat identik dengan masa bermain, karena perkembangan anak mulai akan diasah sesuai dengan kebutuhannya di saat tumbuh kembang ( Abdul A.A.H, 2005).
Menurut Rose Mini (2008) dalam Redaksi Buntet Pesantren (2008), hasil penelitian membuktikan otak anak–anak pada usia emas yakni 1-3 tahun mampu menyerap pengetahuan dengan mudah. Bila spons adalah otak anak, stimulasi lingkungan adalah air yang bisa diserap dengan cepat.
Akan tetapi banyak orang tua yang menganggap masa bermain pada anak tidaklah mendapat perhatian secara khusus sehingga banyak sekali orang tua yang membiarkan anak tanpa memberikan pendidikan terhadap permainan yang dimiliki anak (Abdul A.A.H, 2005).
Selain itu, banyak ditemukan anak pada masa tumbuh kembang mengalami perlambatan yang dapat disebabkan kurangnya pemenuhan kebutuhan pada diri anak termasuk di dalamnya adalah kebutuhan bermain, yang seharusnya masa tersebut merupakan masa bermain yang diharapkan menumbuhkan kematangan dalam pertumbuhan dan perkembangan karena masa tersebut tidak digunakan sebaik mungkin maka tentu akhirnya mengganggu tumbuh kembang anak (Abdul A.A.H, 2005).
Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan pada saat PKL tanggal 5-24 Januari 2009 di Desa Segaran Kecamatan Wates Kediri anak yang berusia 1-3 tahun berjumlah 57 orang. Dan pada saat penilaian DDTK di Posyandu Sedap Malam tanggal 14 Januari 2009 didapatkan 2 anak usia 1-3 tahun mengalami keterlambatan dalam perkembangannya.
Dengan melihat hal di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti ”Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Konsep Bermain pada Anak Usia 1-3 tahun (Toddler) di Desa Segaran Kecamatan Wates Kediri”.
Pembahasan Hasil Penelitian
Pengetahuan Ibu tentang Konsep Bermain pada Anak Usia 1-3 Tahun (Toddler) di Desa Segaran

diagram 4.1


Dari diagram 4.1 dapat diketahui bahwa sebagian besar pengetahuan ibu tentang konsep bermain pada anak usia 1-3 tahun di Desa Segaran adalah kurang. Hal ini dapat dibuktikan bahwa 32 responden didapatkan 4 responden (12,5%) memiliki pengetahuan baik, 11 responden (34,4%) memiliki pengetahuan cukup dan 17 responden (53,1%) memiliki pengetahuan kurang.
Pengetahuan yang masih kurang ini memberikan gambaran bahwa sebagian besar ibu masih belum mengetahui tentang konsep bermain pada anak usia 1-3 tahun secara mendalam. Hal ini dapat dibuktikan bahwa ibu masih belum mengerti mengenai bentuk permainan yang sesuai usia anak. Salah satunya dalam pemberian permainan yang tepat untuk anak dan mengenali kemampuan perkembangan anak. Para ibu juga mengaku bahwa pada saat bermain dengan anak menggunakan alat permainan, ibu belum pernah mempelajari terlebih dahulu cara dan tujuan bermain dengan alat permainan tersebut. Hal ini disebabkan karena kurangnya informasi yang didapatkan. Disini ibu kurang dalam mencari informasi yang berkaitan dengan kegiatan bermain anak. Menurut Nursalam (2005), aktivitas bermain merupakan salah satu stimulus bagi perkembangan anak secara optimal. Ini menunjukkan bahwa kegiatan bermain anak tidak boleh dianggap hal yang biasa, sehingga tidak perlu mendapat perhatian secara khusus mengingat bermain merupakan hal penting dalam perkembangan anak.
Oleh karena itu, diperlukan peran bidan sebagai tenaga kesehatan yang juga bertanggung jawab atas pertumbuhan dan perkembangan anak dalam pemberian informasi mengenai pentingnya bermain pada anak melalui penyuluhan ataupun pemberian leaflet atau brosur. Selain itu diperlukan juga pembinaan mengenai pola bermain dan permainan yang sesuai usia anak kepada ibu maupun kader yang nantinya kader juga mampu membantu ibu dalam pemberian stimulasi pada anak melalui bermain. Serta memotivasi ibu untuk memfasilitasi dan membimbing anak pada saat bermain guna untuk memperkuat motorik kasar maupun motorik halus anak.
4.2.2 Pengetahuan Ibu tentang Pengertian Bermain
Berdasarkan diagram 4.2 dapat diketahui bahwa pengetahuan ibu tentang pengertian bermain adalah cukup. Hal ini dibuktikan bahwa dari 32 responden terdapat 10 responden (31,2%) berpengetahuan baik, 15 responden (46,9%) berpengetahuan cukup dan 7 responden (21,9%) berpengetahuan kurang.
Pengetahuan cukup ini mungkin disebabkan karena ibu hanya sekedar tahu saja tentang arti dari bermain, tetapi belum mengerti secara mendalam mengenai arti bermain yang sebenarnya. Karena apabila dilihat secara sekilas kegiatan bermain yang dilakukan anak selalu identik dengan bersenang-senang. Padahal dari kegiatan tersebut banyak sekali manfaat yang didapatkan. Sejauh mana arti bermain yang diketahui ibu nantinya akan membawa ibu untuk mengetahui lebih jauh tentang maksud dan tujuan dari aktivitas bermain yang dilakukan oleh anak serta kemampuan pekembangan yang dapat dicapai anak melalui bermain. Sehingga dari hal tersebut akan diwujudkan dalam bentuk tindakan atau perilaku. Menurut Soekidjo N (2003), pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang.
Dalam hal ini karena masih kurangnya informasi yang diperoleh ibu. Walaupun hanya sekedar pengertian bermain saja, tetapi apabila kurang mengetahui secara mendalam juga masih dapat dikatakan belum maksimal baik.
Sehingga dengan pengetahuan yang masih cukup ini perlu ditingkatkan dengan lebih memberikan informasi melalui pendidikan kesehatan yang tidak hanya di tempat-tempat kesehatan yang terdapat di desa, tetapi bisa diberikan melalui kegiatan-kegiatan perkumpulan di desa seperti PKK, arisan desa maupun pada saat kegiatan keagamaan. Dengan demikian, ibu menjadi lebih tahu mengenai arti bermain yang sebenarnya. Sehingga ibu tidak akan menganggap remeh kegiatan bermain anak dan akan melakukan pendampingan pada saat anak bermain.
Pengertian Ibu tentang Fungsi Bermain
Dari diagram 4.3 dapat diketahui bahwa pengetahuan ibu tentang fungsi bermain sebagian besar adalah kurang (43,7%), sedangkan (34,4%) berpengetahuan cukup dan (21,9%) berpengetahuan baik. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa mayoritas ibu memiliki pengetahuan kurang baik.
Kenyataan demikian selain disebabkan karena ibu yang belum mengerti secara mendalam mengenai arti bemain, sehingga ibu kurang memahami fungsi dari bermain. Walaupun ibu sudah pernah mengajak anak untuk bermain namun kegiatan tersebut hanya suatu naluri seorang ibu yang merasa berkewajiban untuk mengasuh anaknya. Tetapi kegiatan bermain yang dilakukan tersebut hanya asal bermain saja, ibu masih belum mengetahui fungsi dari bermain itu sendiri.
Menurut Soekidjo N (2003), pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu.
Mengingat banyak sekali fungsi dari kegiatan bermain tersebut, maka disini diperlukan peran bidan sebagai tenaga kesehatan untuk lebih memperkenalkan mainan-mainan yang tersedia disana serta menjelaskan mengenai penggunaan mainan dan fungsi dari permainan yang diberikan untuk anak. Sehingga nantinya ibu tidak hanya asal memberikan mainan dan bermain saja tetapi juga mengerti tentang maksud dan tujuan dari permainan yang diberikan tersebut.
Pengertian Ibu tentang Pola Bermain pada Anak Usia 1 – 3 Tahun.
Dari diagram 4.4 dapat diketahui bahwa pengetahuan ibu tentang pola bermain pada anak usia 1-3 tahun sebagian besar adalah kurang. Hal ini dapat dibuktikan dengan (65,6%) responden berpengetahuan kurang, (28,1%) responden berpengetahuan cukup dan (6,3 %) responden berpengetahuan baik.
Pengetahuan yang masih kurang maksimal ini mungkin disebabkan karena sebagian dari responden ada yang masih mempunyai satu anak, sehingga pengalaman dalam mengasuh anak masih sangat kurang dan walaupun ada sebagian lagi yang memiliki anak lebih dari satu tetapi mereka juga kurang untuk mengakses media baik media cetak maupun elektronik yang berkaitan dengan masalah bermain. Sehingga responden belum mengetahui kemampuan-kemampuan perkembangan yang harus dicapai anak usia 1-3 tahun tiap tahunnya, misalnya pada anak usia 1-2 tahun sudah mampu melakukan kemampuan gerak kasar yang salah satunya mampu berjalan mundur sedikitnya 5 langkah.
Dalam hal ini pengalaman juga dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang. Menurut Kamil (2006) dalam Fuadbahsin (2008), yang menyatakan bahwa pengalaman dapat memberikan pengetahuan dan kemampuan mengambil keputusan yang menunjang kemampuan menalar secara ilmiah. Ini menunjukkan bahwa semakin banyak pengalaman seseorang, semakin banyak pengetahuan yang didapatkan dari pengalaman tersebut.
Oleh karena itu perlu dilakukan upaya-upaya untuk lebih meningkatkan hasil yang masih kurang memuaskan dengan memberikan informasi atau pendidikan kesehatan mengenai stimulasi anak memberikan leaflet atau brosur mengenai perkembangan-perkembangan anak yang harus dicapai tiap tahunnya. Selain itu dapat dilakukan juga dengan memperkenalkan stimulasi untuk anak kepada ibu melalui alat permainan guna merangsang perkembangan anak.
Keterbatasan Penelitian
Dalam penelitian ini kuesioner yang digunakan dibuat sendiri dan belum diuji cobakan sehingga reliabitas dan validitasnya perlu disempurnakan. Selain itu waktu dan penyediaan tempat dalam pengambilan data saat penelitian masih terbatas sehingga hasilnya kurang sempurna.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dari kuesioner yang diberikan kepada 32 responden sejak tanggal 15 – 17 Juni 2009 di Desa Segaran Kecamatan Wates Kediri dapat disimpulkan yaitu :
  • Pengetahuan ibu tentang konsep bermain pada anak usia 1-3 tahun sebagian besar (53,1%) dalam kriteria kurang.
  • Pengetahuan ibu tentang pengertian bermain sebagian besar (46,9%) dalam kriteria cukup.
  • Pengetahuan ibu tentang fungsi bermain sebagian besar (43,7%) dalam kriteria kurang .
  • Pengetahuan ibu tentang pola bermain pada anak usia 1-3 tahun sebagian besar (65,6%) dalam kriteria kurang.

Referensi : http://dahsyaat.com

Perihal marlina2
Saya sedang bekerja di RS Ibu dan Anak Hermina Depok

Mangga Bilih Bade Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: