Proposal Perbandingan pembelajaran Three step interview dengan konvensional

A. Judul

Perbandingan prestasi belajar siswa antara siswa yang menggunakan model pembelajaran three step interview dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional.

B. Latar Belakang Masalah

“Pendidikan” merupakan satu kata yang sudah tidak asing lagi, bukan hanya bagi kalangan orang-orang yang secara langsung berkecimpung di dunia pendidikan saja akan tetapi bagi masyarakat awam pula. Pendidikan termasuk salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, setiap manusia memerlukan pendidikan karena pendidikan pulalah yang menjadi salah satu faktor yang dapat membedakan manusia dari makhluk lainnya. Berkaitan dengan hal ini, U. Tirtarahardja, dan La Sulo, (2005:1) menyatakan bahwa “Sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan bermaksud membantu peserta didik untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi kemanusiaannya. Potensi kemanusiaan merupakan benih kemungkinan untuk menjadi manusia.” Dan menurut Sujana (dalam Ujang, 2006:82) ‘Pendidikan merupakan suatu upaya manusia untuk memanusiakan manusia’. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pendidikan merupakan hal yang sangat essensial bagi kehidupan manusia.

Pendidikan terdiri dari dua jenis yaitu pendidikan formal dan pendidikan non formal. Dalam peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005  tentang standar Nasional Pendidikan, tepatnya pada pasal 1 dinyatakan bahwa “…Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang…”.

Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan formal mempunyai tanggung jawab untuk mendidik siswa. Untuk itu sekolah menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar sebagai realisasi tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Berbagai mata pelajaran pun diajarkan di sekolah, salah satunya adalah mata pelajaran matematika. “Matematika bahkan merupakan mata pelajaran yang telah diberikan sejak Sekolah Dasar (SD)  dengan tujuan untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama.” (Hernawati, 2007:13).

Kemudian berkaitan dengan pembelajaran matematika di sekolah, Ruseffendi (dalam Sudrajat, 2004:2) menyatakan bahwa ‘guru hendaknya dapat menciptakan kondisi pembelajaran yang dapat membentuk pribadi siswa sehingga mempunyai keterampilan yang baik dalam bekerja sama, mempunyai keberanian dan keterandalan dalam berkompetisi disamping mempunyai kemampuan matematika.’

Berkaitan dengan pernyataan di atas bahwa disamping agar memiliki kemampuan matematika siswa diharapkan pula memiliki keterampilan yang baik dalam bekerja sama. Sehingga untuk mewujudkan hal tersebut sangatlah penting jika dalam pelaksanaannya guru harus menerapkan berbagai model pembelajaran yang sesuai. Namun, selama ini model pembelajaran yang sering digunakan dalam pembelajaran matematika adalah model pembelajaran konvensional.

Pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran   konvensional cenderung meminimalkan keterlibatan siswa sehingga guru nampak lebih aktif. Kebiasaan bersikap pasif dalam pembelajaran dapat mengakibatkan sebagian besar siswa takut dan malu bertanya pada guru mengenai materi yang kurang dipahami. Suasana belajar di kelas menjadi sangat monoton dan kurang menarik. (Hesti, 2007:1).

Selain itu, siswa lebih cenderung belajar individual karena tidak banyak memiliki kesempatan bekerja sama dengan temannya yang lain pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Oleh karena itu, agar kegiatan belajar mengajar matematika ini berlangsung lebih efektif dan dapat mencapai tujuan sebagaimana yang telah dinyatakan di atas maka tidak ada salahnya jika guru menerapkan model pembelajaran yang lain yang dianggap sesuai untuk materi yang diajarkan. Salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif. Hartati (dalam Sudrajat, 2004:2) menjelaskan bahwa ‘dalam pembelajaran kooperatif siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka saling mendiskusikan konsep-konsep itu dengan temannya’.  Menurut Lie (2002) “pembelajaran kooperatif adalah sistem pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat saling bekerja sama dalam tugas yang berstruktur”. Hal ini sesuai dengan teori vygotsky yang menyatakan bahwa siswa akan lebih cepat belajar jika mendapat bantuan dari orang-orang sekitarnya. Bantuan dari orang sekitarnya ini dapat pula berupa bantuan dari teman sebayanya, yaitu dengan saling bekerja sama dan saling berbagi mengenai masalah berikut penyelesaian dari materi yang sedang dipelajari. Menurut Depdiknas (dalam Diana, dkk, 2004:103) ‘kecakapan bekerja sama perlu dilatihkan pada siswa karena dengan dimilikinya kecakapan kerja sama yang disertai saling pengertian, saling menghargai, dan saling membantu, siswa akan mampu untuk membangun semangat komunitas yang harmonis’.

Adapun salah satu model pembelajaran yang termasuk kedalam model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran three step interview. Menurut Kagan (dalam Diana dkk, 2004:104) ‘pembelajaran kooperatif tipe three step interview merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang cukup sederhana, dan dapat dilatihkan kepada siswa yang belum terbiasa mengikuti pembelajaran kooperatif’. Menurut Guilford “three step interview is an effective way to encourage students to share their thinking, ask questions, and take”. Atau three step interview adalah sebuah cara yang efektive untuk mendorong siswa agar dapat saling berbagi pemikiran mereka, mengajukan pertanyaan, dan menerima masukan. Menurut Kagan (dalam Diana dkk, 2004:104):

Pada pembelajaran kooeratif tipe three step interiew setiap siswa diberi   kesempatan untuk saling berinteraksi dengan saling mewawancarai secara langsung dan menyampaikan kembali hasil wawancaranya serta dituntut untuk saling bertanggung jawab terhadap tugas yang diembannya sebagai salah satu pendukung keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran.

Model pembelajaran three step interview merupakan model pembelajaran yang belum terlalu sering diperbincangkan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dengan masih sedikitnya penelitian yang berkaitan dengan model pembelejaran ini, baik penelitian terhadap pengaruh, keefektivan, maupun perbandingan model pembelajaran ini dengan model pembelajaran lain, khususnya dalam mata pelajaran matematika.

Oleh karena itu, berdasarkan hal-hal yang telah dikemukakan di atas maka penulis tertarik untuk meneliti mengenai “Perbandingan Prestasi Belajar Siswa antara Siswa yang Menggunakan Model Pembelajaran Three Step Interview dengan Siswa yang Menggunakan Model Pembelajaran Konvensional”

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

“Apakah terdapat perbedaan prestasi belajar siswa antara siswa yang menggunakan model pembelajaran three step interview dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional?”

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa antara siswa yang menggunakan model pembelajaran three step interview dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional.

E. Hipotesis

Dalam penelitian ini penulis mengajukan hipotesis “terdapat perbedaan prestasi belajar siswa antara siswa yang menggunakan model pembelajaran three step interiew dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional”

Untuk lebih lengkapnya dilahkan download dibawah!!

download Proposal

About these ads

Perihal marlina2
Saya sedang bekerja di RS Ibu dan Anak Hermina Depok

2 Responses to Proposal Perbandingan pembelajaran Three step interview dengan konvensional

  1. Syaimar Chandra mengatakan:

    maaf saya boleh tau buku referensi untuk three step interview.. tolong bantuannya soalnya saya butuh secepatnya untuk referensi judul saya :/

  2. wisnu mengatakan:

    contoh lks dalam matematikanya mana?

Mangga Bilih Bade Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.